Jauh di mata, dekat di hati. Kok bisa?

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
(Ran - Dekat Di Hati Lyrics)

Hai all, sudah lama banget saya ga nulis blog karena satu dan lain hal, tentunya  juga karena kesibukan saya menjalani kuliah S2 di bidang psikologi sosial, yes i'm soon to be social psychologist! yipee 

Kali ini saya mau mengulas sedikit thesis saya mengenai jarak psikologis, terutama yang menyangkut topik 'jauh di mata dekat di hati' ini. 

Apasih jarak psikologis? Menurut Liberman & Trope, dua ilmuwan psikologi, jarak psikologis itu adalah penilaian subjektif kita terhadap suatu objek. Kenapa subjektif? karena penilaian saya dan kamu pada jarak yang sama bisa saja berbeda. Anggaplah kita sama-sama di lokasi A, lalu kita diminta berjalan 1 km ke lokasi B. Bisa saja menurut saya lokasi itu dekat dan menurut kamu jauh. 

Ribet ya? begini deh simpelnya. Ketika kamu menilai jauh dekatnya suatu lokasi, kamu ga hanya mempertimbangkan lokasi aktualnya kayak berapa km atau berapa langkah) tapi kamu juga terpengaruh sama pertimbangan-pertimbangan lain yang bikin kamu jadi subjektif dan berbeda pendapat dengan orang lain, misalnya pengalaman sebelumnya ataupun mood kamu saat itu. 

Cukup terbayang? lanjut ya. Ternyata kamu tidak hanya menilai jauh dekat hanya di bidang lokasi aja, tetapi juga dalam hubungan kamu dengan orang lain, yang disebut dengan jarak sosial. Simpelnya, ketika kita sangat akrab dengan orang kita menggambarkan orang tersebut adalah orang terdekat kita (walaupun secara lokasi, dia berada di radius beratus  km dari kita), atau kamu malas datang ke nikahan orang karena merasa hanya kenal dan tidak terlalu dekat (walaupun lokasi nikahannya cuma beberapa km dari kita).

Nah karena kita sama-sama menjelaskan objek lokasi (jarak spasial) dan hubungan kita dengan orang lain (jarak sosial) dengan term yang sama, yaitu seberapa jauh atau  dekat, ternyata informasi mengenai satu jarak akan memengaruhi perasaan kita mengenai jauh dekatnya jarak lain. Hal ini yang membuat kita otomatis menjaga jarak dengan orang asing ataupun ingin selalu nempel dengan kekasih. 

Sebaliknya, lokasi yang jauh juga bisa membuat kita merasakan lebih dekat dengan orang lain dibandingkan ketika orang tersebut ada di depan mata kita. Bayangkan kamu lagi kuliah/kerja di luar negri. Kamu biasanya akan lebih sering kangen dan dengan keluarga atau teman di kampung halaman dibandingkan sewaktu kamu sedang berada di kota yang sama. 

Lalu dalam situasi apa kita bisa jadi dekat dan juga jadi jauh? 

Menurut studi acuan saya dari Maglio, dkk (2013), saat individu hanya memiliki informasi mengenai lokasi jarak spasial saja dan diminta untuk membayangkan jarak sosial, maka individu akan melakukan proses asimilasi dan membayangkan jarak tersebut sama jauhnya dengan informasi jarak yang ia punya, misalnya kamu  diminta memilih kerjasama dengan orang dari kota tempat kamu berasal atau dari luar kota, kamu akan cenderung memilih kerjasama dengan orang dari kota kamu karena secara otomatis kamu merasa dekat dengan yang lokasinya dekat.

Sebaliknya, ketika individu memiliki informasi mengenai jarak spasial dan jarak sosial (kamu tahu kamu sedekat apa dengan B dan kamu tau sejauh apa lokasi kamu dengan lokasi B), individu akan melakukan proses kontras, yaitu dengan mengurangi sensitivitas kamu pada jarak sosial. Contohnya, jika kamu baru saja tiba di negeri orang,   kamu lebih dekat dengan banyak orang di kampung halaman dibandingkan ketika kamu masih berada di negeri sendiri. Simpelnya, kamu akan 'mendiskon' jarak sosial tersebut dan merasa bahwa 'ternyata kita gak sejauh itu kok'. Voila, terciptalah perasaan 'jauh di mata dekat di hati'.

Sebenarnya ini penjelasan simpel saya karena penjelasan aslinya sebenernya cukup ribet dan saya pun masih dalam proses menjelaskannya dengan bahasa manusia. But i promise jika thesis saya kelar saya akan coba menjelaskan apa sih yang saya kerjakan dalam meneliti fenomena jauh di mata dekat di hati ini hehehe   

Feel free jika ada yang mau discuss atau protes ya :) 


sumber :
Liberman, N. & Trope, Y. (1998). The role of feasibility and desirability considerations in near and distant future decisions ; a test of temporal construal theory. Journal of personality and social psychology, 75,5-18 
Maglio, S.J., Trope, Y., & Liberman, N. (2013a). The common currency of psychological distance.  Current directions in psychological science, 22(4), 278-282.

Maglio, S.J., Trope, Y., & Liberman, N.(2013b). Distance from  a distance:  Psychological distance reduces sensitivity to any further psychological distance. Journal of experimental psychology : general. 142 (3),644-657 

Comments

Post a Comment